Tuntutlah Ilmu Setinggi Bintang di Langit
Menuntut ilmu selayaknya kita cari hingga ke ujung dunia, Astronot adalah gambaran untuk kita supaya kita bisa berfikir lebih jauh
Apa Tujuan Hidup Kita?
Hidup adalah suatu pilihan yang harus dijalani, baik dan buruk adalah pilihan dari dalam diri kita sendiri. Mampukah kita menentukan langkah hidup kita?
Motivasi Sangat Kita Butuhkan disaat Kita Terjatuh
Motivasi untuk diri yang terkadang dilupakan, motivasi bisa kita peroleh dari orang tua, sahabat, atau siapa saja
Minggu, 22 April 2012
Ujian Kompetensi SMK
Sabtu, 21 April 2012
Sepenggal Biografi Kartini

Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.
Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Kartini bersama suaminya, R.M.A.A.Singgih Djojo Adhiningrat (1903).
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar danSurat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder(Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Sekolah Kartini (Kartinischool), 1918.
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Rabu, 18 April 2012
Entrepreneurship?!

Ada beberapa alasan mengapa menjadi wirausahawan menjadi pilihan yang perlu dipertimbangkan:
1. MERDEKA SECARA FINANSIAL
Menjadi Pegawai baik itu Pegawai Swasta atau Pegawai Negeri ada batas maksimal gajinya. Misal pegawai negeri dengan golongan tertinggi ada aturan-aturan gaji pokok dan beberapa tunjangan dan fasilitasnya. Meskipun seorang pegawai dapat menghasilkan laba milyaran rupiah bagi suatu perusahaan, kenaikan gajinya tidak akan sebanding dengan kenaikan laba perusahaan yang diperoleh. Selain itu kenaikan gaji terkadang tidak bisa mengimbangi kenaikan harga-harga kebutuhan hidup yang makin meningkat pesat. Selain itu meski kita memiliki prestasi yang baik jika pendidikan kita tidak cukup tinggi maka akan sulit untuk mendapatkan gaji yang tinggi. Seorang Wirausaha bisa menentukan besarnya finansial yang sampai secara tak terbatas. Banyak orang bekerja pada orang lain hanya sebagai loncatan untuk mencari modal usaha dan modal relasi. Meski telah mendapatkan fasilitas yang bagus di perusaaan tidak jarang seorang dengan jiwa wiraswasta keluar dan mengembangkan usaha sendiri dengan modal pengalaman bekerja.
2. MERDEKA WAKTU
Dengan mempunyai usaha sendiri, seorang wirausaha akan mempunyai jam kerja yang bebas, tidak terikat jam kantor , serta bebas dari pelanggaran disiplin kantor.Jika bisnis yang dijalankan sudah berjalann dengan baik tidak perlu setiap hari kita pergi ke kantor karena bisa didelegasikan kepada orang lain. waktu bisa dibagi untuk kegiatan bisnis yang lain atau aktifitas lain. Meski wirausaha memerlukan disiplin yang tinggi tetapi dengan memiliki usaha sendiri kita bisa mengatur waktu semau kita sendiri tanpa diatur oleh orang lain. Dari segi waktu wiraswasta membuat kita merdeka dari segi waktu.
3. MEWUJUDKAN CITA-CITA HIDUP
Banyak orang yang memiliki cita-cita dan harapan hidup memberi banyak manfaat bagi banyak orang dan hidup sejahtera dari segi finansial. Menjadi wiraswasta akan memberi peluang orang lain mengembangkan usaha juga, paling tidak memberi peluang orang lain mendapatkan penghidupan dari usaha yang kita jalankan dengan menjadi karyawan.
Dalam berwirausaha yang paling perlu perlu dikembangkan adalah motif berprestasi, kesuksesan dalam berwirausaha adalah prestasi yang ditentukan oleh diri sendiri bukan ditentukan orang lain . Motif ini mestinya menjadi filofofi dasar seorang enterpreneur.Hal kedua adalah semangat berkompetisi secara sehat, bisnis adalah persaingan menjadi yang terbaik. Persaingan yang ketat memerlukan kemauan dan tekad keras,serta kesanggupan berpacu dengan keunggulan. Motif berafiliasi juga juga perlu perlu diperhatikan karena karena wirausaha harus pandai pandai meningkatkan meningkatkan kemampuan manajerial yang mampu menggerakkan orang lain dengan sebaik-baiknya yang dilakukan dengan menjalin hubungan antar sesama yang yang baik.ones-sumber
Sabtu, 14 April 2012
Wanita Tercipta Untuk Kita Cinta

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,"Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, danmengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan
jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk
memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkanperasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan".
asih ibu seperti lingkaran, tak berawal dan tak
berakhir.
Kasih ibu itu seperti berputar dan senatiasa meluas, menyentuh setiap orang yang ditemuinya. Melingkupinya seperti kabut pagi, menghangatkannya seperti mentari siang, dan menyelimutinya seperti bintang malam.
Semoga Yang Maha Kuasa mengampuni dosa-dosanya.
Amiin Ya Rabbal ‘alamin
Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup.
Jumat, 13 April 2012
Jangan Cengeng!!!

Orang yang sukses didalam dirinya tertanam jiwa yang optimis, jiwa yang super hero bukan pribadi cengeng yang hidup dalam kemewahan dan kemanjaan tapi pribadi yang tegar dan tangguh dan tak pernah kenal lelah.
Karena sejarah mencatat bahwa orang besar justru lahir di tengah himpitan kesulitan bukan buaian kemanjaan. Kesulitan hidup mengajarinya cara bersyukur bukan berhambur, cara berbagi bukan menguli, cara bantu membantu bukan tipu menipu, cara tolong menolong bukan todong menodong.
Maaf dikata, bisa dikatakan sekarang generasi agama dan bangsa kita sedang menuju generasi cengeng, gaya bahasa yang alay dan sedikit lebay. Misalnya saja penyebutan untuk “sakit” diubah menjadi “atit”. Penyebutan “sayang” diubah menjadi “cayang” ,untuk “semangat” diubah menjadi “ cemungut” dan masih banyak lagi contohnya, dan saudara semua bisa menambahkan sendiri kalimat cengeng itu.
Ini baru dari segi bahasa yang telah menjerumuskan generasi kita menuju generasi cengeng. Belum lagi apa yang dinamakan dengan bermental cengeng, sedikit-dikit mengandalkan orang tua, kakak dan kawan. Misalnya ada masalah sedikit langsung manggil mak/ummi/mami/mama aku sudah tak kuat lagi. Papa/papi/abi/ayah/abah aku tak sanggup lagi.
Kalau lihat orang sukses palingan dia andalin bokap nyokapnya, ente belum apa-apa lagi, lihat tuh bokap gue, lihat tuh paman gue, lihat tuh kakek gue. Kalau begitu Kapan lihat gue nya??? Sedangkan Imam Ali pernah berkata “ Bukan seorang pemuda yang mengatakan ini ayahku, tapi pemuda itu adalah mereka yang berkata ini aku.”
Apa penyebab munculnya generasi cengeng, salah satunya adalah maraknya lagu-lagu cengeng yang lagi naik daun. Bahkan dengan keputusasaannya sang vokalis berkata “kalau terus begini maka aku akan pergi”. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Belum lagi dunia perfilman yang diisi oleh film-film cengeng, yang ditampilkan hanya masalah cinta, perebutan warisan, kehormatan keluarga dan kemewahan duniawi yang selalu ditampilkan. Secara tidak langsung ini akan membentuk pola pikir penonton untuk berambisi menjadi seperti yang ada di film itu dan akan muncul generasi cengeng yang mengandalkan segala cara untuk bisa hidup mewah, maka tidak aneh lagi akan munculnya berbagai kejahatan. Maraknya pencurian yang dilakukan oleh semua kasta dari pejalan kaki sampai mereka yang memakai dasi.
The win solution nya adalah mengembangkan potensi diri menjadi manusia super, hidup keterbatasan bukan penghalang untuk mandiri, Rasulullah saja sudah mulai hidup mandiri ketika usia dini, ditinggal ayah dan ibu tercinta. Akan tetapi beliau tumbuh menjadi manusia super yang powernya kita rasakan sampai era internetan ini.
Tiada kata lain selain bergerak untuk mewujudkan apa yang menjadi impian dalam hidup. Karena hari kemarin telah terlewati, hari ini sedang terjadi dan esok hari masih penuh misteri, maka jadilah pemenang yang mana hari ini lebih baik dari hari kemarin. Berkarya untuk agama dan bangsa, berdikari untuk diri dan negeri, bukan hanya ketergantungan kepada nenek moyang karena kita bukan generasi cengeng. ones. sumber



09:02

